Youth Leadership Gorontalo, Ghalib Lahidjun Dorong Pemuda Aktif Berorganisasi dan Kritis Hadapi Ketimpangan Sosial

Berita24 Dilihat
banner 468x60

Youth Leadership Gorontalo, Ghalib Lahidjun Dorong Pemuda Aktif Berorganisasi dan Kritis Hadapi Ketimpangan Sosial

Humas Deprov — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Gorontalo menggelar kegiatan Youth Leadership Gorontalo di Aula Indoor Universitas Gorontalo, Selasa (1/9/2026).

Kegiatan yang mengangkat tema “Penguatan Kapasitas Pemuda sebagai Agen Perubahan dalam Menghadapi Dinamika Sosial dan Transformasi Digital” tersebut melibatkan siswa dan siswi dari berbagai SMA dan SMK se-Provinsi Gorontalo. Sejumlah pemangku kepentingan terkait turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Dalam kegiatan itu, Sekretaris Komisi IV DPRD Provinsi Gorontalo, Ghalib Lahidjun, turut memberikan materi mengenai pentingnya membangun kapasitas pemuda, memahami realitas sosial, serta menjadikan organisasi sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan diri.

Dalam pemaparannya, Ghalib mengajak para peserta melihat kehidupan tidak hanya dari perspektif kerja keras individu, tetapi juga memahami adanya faktor struktur, sistem, akses, dan kesempatan yang turut memengaruhi keberhasilan seseorang.

Menurutnya, terdapat tiga cara pandang dalam melihat keadilan hidup dan takdir, yakni perspektif tradisionalis, modernis, dan kritis. Dari ketiga perspektif tersebut, pendekatan kritis dinilai penting bagi generasi muda karena mampu melihat persoalan secara lebih luas.

“Kerja keras saja tidak cukup jika tidak didukung oleh struktur atau sistem yang memberikan ruang dan kesempatan yang setara,” demikian salah satu poin yang disampaikan Ghalib dalam materinya.

Ia mencontohkan realitas kehidupan masyarakat, di mana seseorang dapat memiliki kemampuan dan bekerja keras, tetapi belum tentu memperoleh hasil yang sebanding karena keterbatasan akses dan ruang sosial-ekonomi.

Fenomena tersebut, kata Ghalib, dapat ditemukan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan dan dunia kerja. Kapasitas dan prestasi seseorang terkadang dapat tersisihkan oleh praktik nepotisme maupun privilese yang dimiliki pihak tertentu.

“Kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan,” ujarnya, sembari menyinggung kondisi petani dan nelayan yang bekerja keras setiap hari, tetapi menghadapi berbagai persoalan struktural yang memengaruhi tingkat kesejahteraannya.

Karena itu, Ghalib mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi kelompok yang menerima keadaan, tetapi mampu membaca persoalan secara kritis dan mengambil peran dalam mendorong perubahan.

Menurutnya, perubahan membutuhkan keberanian, kerja keras, dan langkah konkret. Generasi muda harus berani melakukan lompatan serta memberikan upaya lebih besar untuk mencapai harapan dan cita-cita di tengah berbagai tantangan yang ada.

Selain membahas persoalan sosial, Ghalib juga menekankan pentingnya organisasi sebagai ruang pembelajaran bagi generasi muda.

Ia menjelaskan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, manusia memang melakukan interaksi secara alamiah. Namun, interaksi tersebut perlu dikembangkan menjadi interaksi yang terprogram, strategis, dan berorientasi pada pengembangan kapasitas. Salah satu ruang yang dapat mewujudkannya adalah organisasi.

“Belajar berinteraksi di dalam komunitas yang disebut dengan organisasi,” kata Ghalib.

Menurutnya, organisasi memiliki banyak manfaat bagi pemuda. Selain menjadi ruang untuk membangun jejaring, organisasi juga dapat mempertajam kemampuan intelektual, meningkatkan kemampuan analisis melalui diskusi dan dialog, serta melatih kepemimpinan.

Ghalib bahkan mengungkapkan bahwa sebagian besar perjalanan dirinya hingga berada pada posisi saat ini tidak terlepas dari pengalaman berorganisasi.

“Saya jujur kepada teman-teman sekalian, bisa sampai pada titik ini lahir 80 persen karena efek organisasi,” ungkapnya.

Ia menceritakan bahwa dirinya berasal dari lingkungan sederhana dan sejak awal aktif mengikuti berbagai organisasi. Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan ruang untuk meningkatkan kemampuan intelektual sekaligus membangun jaringan yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

“Kalau saya tidak sekolah dan tidak beraktivitas di organisasi, mungkin saat ini saya berada di tengah laut di Teluk Tomini sebagai nelayan, bukan berdiri di hadapan teman-teman untuk memberikan motivasi tentang organisasi,” tuturnya.

Karena itu, Ghalib mengajak para pelajar untuk mulai mengenal dan aktif dalam organisasi sejak dini. Pengalaman menjadi pengurus OSIS di sekolah, menurutnya, dapat menjadi langkah awal untuk membangun kemampuan kepemimpinan dan komunikasi.

Organisasi, lanjutnya, dapat menjadi “sekolah ekstrakurikuler” bagi pemuda untuk mempelajari berbagai kemampuan yang tidak selalu diperoleh di bangku sekolah.

“Organisasi itu sangat penting bagi kita untuk dijadikan sebagai sekolah ekstrakurikuler untuk melatih segala macam kemampuan yang tidak bisa kita dapatkan di bangku sekolah atau di pelajaran-pelajaran umum,” jelasnya.

Ia berharap kegiatan Youth Leadership Gorontalo dapat menjadi ruang interaksi, dialog, dan diskusi bagi para pelajar untuk memperluas wawasan sekaligus menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya peran pemuda dalam kehidupan sosial.

Ghalib juga mendorong peserta agar tidak berhenti pada materi yang disampaikan, tetapi berani mengembangkan pertanyaan dan berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda.

“Bagaimana pentingnya organisasi di dalam kehidupan kita, terutama sebagai pemuda,” menjadi salah satu pesan utama yang ia tekankan.

Melalui kegiatan Youth Leadership Gorontalo, KNPI Provinsi Gorontalo diharapkan dapat terus menjadi wadah strategis dalam membangun kapasitas generasi muda, sehingga para pelajar tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki kepemimpinan, kemampuan berpikir kritis, jejaring sosial, serta keberanian menjadi agen perubahan di tengah dinamika masyarakat dan perkembangan teknologi digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *