Optimalkan Tambak Bandeng, DPRD Gorontalo Dorong Desa Kramat Jadi Ikon Perikanan

Berita, Reses717 Dilihat
banner 468x60

Humas Deprov – Anggota DPRD Provinsi Gorontalo dari Daerah Pemilihan (Dapil) Boalemo–Pohuwato melaksanakan kegiatan reses dengan mengunjungi tambak ikan bandeng di Desa Kramat, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, Rabu (04/02/2026).

Kegiatan reses tersebut dihadiri Wakil Ketua DPRD Provinsi Gorontalo La Ode Haimudin, bersama Ketua Tim Reses Djoni Dalanggo serta anggota tim lainnya yakni Dedy Hamzah, Anas Jusuf, Limonu Hippy, Mikson Yapanto, dan Sapia Tuna.

Dalam kunjungan tersebut, para legislator meninjau langsung aktivitas budidaya ikan bandeng sekaligus melihat pola kerja sama antara Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Kramat dengan pengusaha tambak bandeng yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat setempat.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Gorontalo, La Ode Haimudin, menyampaikan bahwa pengelolaan tambak bandeng harus dilakukan secara optimal agar seluruh potensi yang ada dapat dimanfaatkan secara maksimal. Menurutnya, jika dikelola dengan baik, produksi bandeng akan meningkat dan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan desa.

“Jika terjadi peningkatan produksi, tentu akan berdampak pada peningkatan pendapatan desa,” ujarnya.

Ia menegaskan, secara umum tambak di Provinsi Gorontalo memiliki potensi besar untuk berproduksi secara maksimal. Namun, potensi tersebut perlu diiringi dengan inovasi, termasuk mendorong agar hasil bandeng tidak hanya dijual dalam bentuk mentah ke luar daerah.

“Kita ingin ada pengolahan lanjutan sehingga memiliki nilai tambah bagi daerah, seperti bandeng presto, otak-otak bandeng, maupun bandeng asap. Dengan begitu, Gorontalo bisa dikenal sebagai daerah ikon bandeng dan produk unggulan sektor perikanan budidaya,” jelasnya.

Selain potensi, La Ode juga mengungkapkan sejumlah kendala yang masih dihadapi para pembudidaya bandeng. Salah satunya adalah lambatnya proses panen akibat sistem pembuangan air ke laut yang belum optimal.

“Proses panen menjadi lambat karena saluran pembuangan air belum maksimal. Ini perlu perhatian agar siklus panen bisa berjalan sesuai jadwal,” ungkapnya.

Kendala lainnya adalah keterbatasan ketersediaan pupuk yang digunakan untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami ikan bandeng. Selama ini, perhatian pemerintah masih lebih terfokus pada pupuk sektor pertanian, sementara kebutuhan pupuk sektor perikanan budidaya juga cukup besar.

“Ke depan kita akan membicarakan bagaimana ketersediaan pupuk untuk budidaya bandeng, karena banyak pembudidaya bandeng maupun udang yang membutuhkan,” tambahnya.

Di akhir penyampaiannya, politisi dari partai berlambang moncong putih tersebut berharap berbagai persoalan yang ada dapat dibahas secara kolaboratif bersama pemerintah daerah serta melibatkan perguruan tinggi melalui riset dan inovasi.

“Jika kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha berjalan baik, maka produksi tambak bandeng di Gorontalo akan meningkat dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat, khususnya sektor perikanan budidaya,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *