Menjelang Festival Karawo, Syarifuddin Bano Tinjau Langsung Pengrajin Karawo di Pulubala

Berita63 Dilihat
banner 468x60

Humas Deprov — Menjelang pelaksanaan Festival Karawo, Anggota DPRD Provinsi Gorontalo dari Daerah Pemilihan (Dapil) Boliyohuto, Syarifuddin Bano, melakukan kunjungan kerja ke sentra pengrajin kain sulam karawo di Desa Bukit Aren, Kecamatan Pulubala.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung aktivitas para pengrajin sekaligus mendengarkan berbagai aspirasi dan kendala yang selama ini dihadapi dalam mengembangkan kerajinan karawo.

Dalam kunjungannya, Syarifuddin melihat langsung proses pengerjaan kain karawo yang dilakukan secara manual oleh komunitas ibu-ibu di desa tersebut. Ia mengapresiasi konsistensi para pengrajin yang selama puluhan tahun tetap mempertahankan keterampilan menyulam karawo sebagai bagian dari warisan budaya khas Gorontalo.

Menurut Syarifuddin, keberadaan para pengrajin karawo memiliki nilai penting, bukan hanya dari sisi pelestarian budaya, tetapi juga sebagai potensi ekonomi masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian dan dukungan serius.

“Ini adalah warisan budaya yang patut kita kembangkan bersama. Di tengah tantangan global dan modernisasi, masyarakat kita, khususnya komunitas ibu-ibu di Pulubala, masih mampu mempertahankan tradisi menjahit dan menganyam pola karawo secara manual, baik motif burung, ikan, maupun motif khas Gorontalo lainnya,” ujar politisi Partai Demokrat tersebut.

Dalam dialog bersama para pengrajin, Syarifuddin menemukan sejumlah persoalan yang masih menjadi tantangan bagi komunitas karawo di Pulubala. Salah satunya adalah ketergantungan terhadap pihak ketiga atau vendor dalam memperoleh pesanan.

Padahal, menurutnya, permintaan terhadap produk karawo cukup tinggi, termasuk pada momentum kegiatan seperti Penas maupun berbagai kebutuhan yang berasal dari pemerintah.

Namun, tingginya permintaan tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan para pengrajin. Upah yang diterima masih relatif rendah jika dibandingkan dengan tingkat kerumitan serta waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap pola karawo.

Para pengrajin menyampaikan bahwa harga pengerjaan yang diberikan vendor berkisar antara Rp35 ribu, Rp50 ribu, Rp75 ribu hingga Rp100 ribu per pola, tergantung tingkat kerumitan motif.

“Metode pemasaran mereka selama ini belum bisa mandiri karena sifatnya hanya menerima barang dan diberi upah oleh vendor untuk menyelesaikan gambar yang ditentukan. Padahal, pengerjaannya rumit dan memakan waktu,” jelas Syarifuddin.

Melihat kondisi tersebut, Syarifuddin menilai perlu adanya intervensi dan perhatian lebih serius dari Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui organisasi perangkat daerah terkait, khususnya yang menangani sektor IKM dan UMKM.

Ia juga mendorong keterlibatan berbagai organisasi yang memiliki perhatian terhadap pemberdayaan masyarakat, termasuk Dharma Wanita, agar pengrajin karawo mendapatkan pembinaan secara berkelanjutan.

Menurutnya, pembinaan tidak cukup hanya pada aspek keterampilan produksi. Para pengrajin juga perlu mendapatkan pendampingan dalam hal pemasaran, akses permodalan, pengembangan produk, penguatan kelembagaan, hingga akses pasar yang lebih luas.

Dengan demikian, para pengrajin tidak hanya menjadi pihak yang mengerjakan pesanan dari vendor, tetapi dapat berkembang menjadi pelaku usaha yang memiliki produk dan pasar sendiri.

“Ke depan, hal ini harus dipikirkan bersama oleh pemerintah. Bagaimana para pengrajin karawo ini bisa mendapatkan bantuan langsung dan pemberdayaan yang layak, sehingga kesejahteraan mereka bisa meningkat sepadan dengan karya seni luar biasa yang mereka hasilkan,” pungkasnya.

Syarifuddin berharap momentum Festival Karawo dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkuat promosi dan pengembangan karawo sebagai identitas budaya Gorontalo sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat yang selama ini menjadi penjaga tradisi tersebut.

Ia menegaskan, pelestarian karawo harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan para pengrajinnya. Dengan dukungan pemerintah, akses pasar yang lebih luas, serta pembinaan yang berkelanjutan, karawo diharapkan mampu menjadi salah satu kekuatan ekonomi kreatif Gorontalo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *