Kemarau Lima Bulan, Desa Tupa Masih Aman Air Bersih, Petani Jagung Gagal Panen

Humas Deprov – Kemarau panjang yang telah berlangsung selama lima bulan mulai memberikan dampak serius terhadap sektor pertanian di Desa Tupa, Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.

Meski demikian, hingga saat ini masyarakat Desa Tupa masih belum mengalami krisis air bersih. Kondisi tersebut diketahui dalam kunjungan kerja Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo dalam rangka pemantauan dampak kemarau panjang, Sabtu (26/9/2026).

Kunjungan tersebut merupakan lanjutan dari monitoring yang sebelumnya dilakukan di Desa Bulotalangi Barat. Komisi I DPRD Gorontalo turun langsung untuk memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat di tengah kemarau yang melanda sebagian besar wilayah Gorontalo.

Desa Tupa sendiri memiliki 1.026 jiwa yang tersebar dalam 409 kepala keluarga (KK).

Kepala Desa Tupa, Neni Polihito, S.IP., mengatakan kebutuhan air bersih masyarakat hingga kini masih terpenuhi. Warga memperoleh pasokan air dari PDAM, sementara sebagian lainnya masih memanfaatkan sumur suntik.

“Untuk Desa Tupa Alhamdulillah suplai air bersih masih terpenuhi dan bisa dikatakan masih melimpah, meski kekeringan melanda hampir seluruh wilayah Provinsi Gorontalo,” ungkap Neni.

Namun, kondisi berbeda terjadi pada sektor pertanian. Kemarau panjang telah menyebabkan hasil pertanian warga menurun drastis. Hampir seluruh masyarakat Desa Tupa yang menggantungkan hidup sebagai petani jagung dan hortikultura terdampak minimnya curah hujan. Akibatnya, sebagian besar tanaman mengalami gagal panen.

Selain persoalan dampak kemarau, dalam pertemuan dengan rombongan DPRD, masyarakat turut menyampaikan aspirasi terkait pembangunan pagar pengaman SD Tupa.

Pagar sekolah sepanjang lebih dari 10 meter tersebut dinilai mendesak untuk dibangun karena halaman sekolah berada tepat di sisi jalan raya. Kondisi itu dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan siswa saat beraktivitas di lingkungan sekolah.

Masyarakat sebelumnya telah berupaya secara swadaya dengan mengumpulkan dana lebih dari Rp2 juta. Namun, masih dibutuhkan sekitar Rp10 juta untuk menuntaskan pembangunan pagar tersebut.

Anggota Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo, Femmy M. Udoki, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari fungsi pengawasan DPRD, khususnya untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah kondisi kemarau panjang.

“Secara umum kebutuhan air bersih di Desa Tupa masih mencukupi dan melimpah,” ujar Femmy.

Sementara terkait aspirasi pembangunan pagar sekolah, Femmy menyatakan pihaknya akan membantu memfasilitasi kebutuhan tersebut dengan pihak terkait.

“Untuk aspirasi warga terkait pagar akan kami fasilitasi dengan pihak terkait. Kami sudah menghubungi kolega pengusaha asal Tupa dan siap membantu untuk pembangunan pagar pengaman Sekolah Dasar tersebut,” jelasnya.

Dengan masih tersedianya air bersih, perhatian masyarakat dan pemerintah kini juga tertuju pada dampak ekonomi akibat gagal panen. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian di tengah kemarau panjang yang belum berakhir.