Fadli Hasan ; Kunjungan Duta Besar UEA Tak Berhenti di Seremonial, Gorontalo Bidik Pasar Seafood hingga Energi Terbarukan

Berita212 Dilihat

Humas Deprov – Kunjungan kerja Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia ke Provinsi Gorontalo mulai diarahkan pada agenda yang lebih konkret: membuka ruang investasi dan kerja sama strategis, bukan sekadar pertukaran pesan diplomatik.

Ketua DPRD Provinsi Gorontalo yang diwakili Anggota Komisi II DPRD Provinsi Gorontalo, Fadli Hasan, menghadiri Forum Dialog Gubernur Gorontalo bersama Duta Besar Uni Emirat Arab, Rabu (12/8/2026), di Ruang Dulohupa Kantor Gubernur Gorontalo.

Fadli Hasan menegaskan, Gorontalo memiliki sejumlah komoditas strategis yang layak ditawarkan ke pasar internasional, khususnya sektor perikanan, kelautan dan peternakan.

Salah satu yang disoroti adalah potensi ekspor produk perikanan Gorontalo yang selama ini telah memiliki pasar di sejumlah negara seperti Jepang, Singapura dan Thailand.

Komoditas seperti tuna, tenggiri, kerapu dan kerang dara dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh menuju pasar Uni Emirat Arab yang dikenal memiliki permintaan tinggi terhadap produk seafood berkualitas.

“Potensi perikanan kita sangat besar. Produk seperti tuna, tenggiri, kerapu dan kerang dara bukan hanya memiliki pasar di Jepang, Singapura dan Thailand, tetapi juga sangat berpotensi dikembangkan untuk masuk ke pasar Uni Emirat Arab,” ujar Fadli.

Menurutnya, peluang tersebut harus dibaca bukan sebatas sebagai aktivitas perdagangan, tetapi sebagai pintu masuk menuju hilirisasi sektor kelautan Gorontalo.

Selain perikanan, Gorontalo juga dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai salah satu sentra rumput laut nasional.

Potensi tersebut, kata Fadli, harus dibarengi dengan penguatan industri pengolahan agar Gorontalo tidak terus berada pada posisi sebagai daerah penghasil bahan mentah.

“Kalau kita bicara hilirisasi, jangan sampai Gorontalo hanya menjual bahan baku. Harus ada industri pengolahan sehingga nilai tambahnya tinggal di daerah dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” tegasnya.

Sektor peternakan juga menjadi bagian penting dalam pembahasan. Fadli memaparkan bahwa pada periode 2024–2025, pengiriman ternak Gorontalo menuju Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara mencapai 11.725 ekor.

Data tersebut menunjukkan bahwa Gorontalo memiliki kapasitas produksi ternak yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi sektor ekonomi strategis.

Potensi tersebut semakin terbuka dengan rencana pembangunan pabrik pakan/sarana produksi (PS) di Desa Polohungo, Kabupaten Boalemo, yang diharapkan dapat memperkuat rantai produksi peternakan di daerah.

Dengan dukungan investasi dan teknologi, sektor peternakan Gorontalo dinilai dapat diarahkan tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga memiliki orientasi ekspor.

Fadli menilai hubungan Indonesia dan Uni Emirat Arab saat ini sudah berada pada level yang lebih strategis. Karena itu, Gorontalo harus mampu mengambil posisi di tengah hubungan bilateral yang terus berkembang tersebut.

“Kerja sama antara Uni Emirat Arab dengan Indonesia bukan lagi sekadar penjajakan. Ini sudah masuk pada hubungan strategis dan sudah berjalan puluhan tahun. Karena itu, daerah harus mampu menangkap peluang tersebut,” katanya.

Menurutnya, sejumlah sektor yang paling potensial untuk dikembangkan antara lain perkebunan, perikanan dan peternakan.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Gorontalo juga tengah mendorong pembangunan Islamic Center yang diharapkan dapat menjadi salah satu proyek strategis daerah sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan Uni Emirat Arab.

“Islamic Center ini juga menjadi perhatian. Kita berharap pemerintah UEA dapat melihat ini sebagai peluang kerja sama yang bisa dikembangkan bersama. Ini bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi bagaimana membangun pusat kegiatan yang memiliki manfaat luas bagi umat,” jelas fadli hasan

Dalam forum tersebut, Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Sekretaris Daerah turut memberikan gambaran mengenai sejumlah agenda strategis daerah, termasuk pembangunan Islamic Center, hilirisasi komoditas serta peluang kerja sama.

UEA sendiri memiliki pengalaman investasi pada proyek energi terbarukan di Indonesia. Karena itu, pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi referensi bagi Gorontalo untuk mulai membuka komunikasi yang lebih intensif mengenai pengembangan energi bersih.

Fadli menilai isu tersebut semakin relevan dengan agenda nasional Indonesia yang secara bertahap mendorong transisi dari energi fosil menuju energi baru dan terbarukan.

“Kalau visi nasional kita adalah bagaimana beralih dari energi fosil menuju energi baru terbarukan, tentu ada peluang yang bisa kita bicarakan dengan pihak Uni Emirat Arab. Ini harus ditindaklanjuti secara serius,” ujarnya.

Di balik momentum diplomatik tersebut, DPRD Provinsi Gorontalo memberikan catatan tegas agar kunjungan Duta Besar UEA tidak berakhir sebagai agenda seremonial.

Fadli menekankan pentingnya tindak lanjut konkret setelah forum berakhir, termasuk pemetaan proyek prioritas, penyusunan proposal investasi, koordinasi lintas OPD dan komunikasi lanjutan dengan pihak Uni Emirat Arab.

“Yang paling penting, kami berharap ini bukan kegiatan seremonial. Harus ada tindak nyata dari Pemerintah Provinsi Gorontalo. Semua stakeholder harus duduk bersama melihat peluang yang ada dan menjadikannya satu tujuan yang sama,” tegasnya.

Menurutnya, potensi Gorontalo sebenarnya cukup besar. Persoalannya adalah bagaimana pemerintah mampu mengemas potensi tersebut menjadi proyek yang layak ditawarkan kepada investor.

“Jangan hanya mengatakan kita punya ikan, punya rumput laut, punya ternak atau punya potensi energi. Yang dibutuhkan investor adalah konsep yang jelas, data yang kuat, kesiapan regulasi dan proyek yang bisa direalisasikan,” tambahnya.

Karena itu, DPRD mendorong Pemerintah Provinsi Gorontalo segera menyusun roadmap tindak lanjut kerja sama dengan UEA, sehingga hasil forum dapat diterjemahkan menjadi program dan investasi yang terukur.

Pada akhirnya, kunjungan Duta Besar UEA harus menjadi momentum untuk menaikkan posisi Gorontalo dari sekadar daerah yang memiliki potensi menjadi daerah yang mampu menawarkan proyek, menarik investasi, memperluas pasar ekspor dan menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

“Tujuan akhirnya harus jelas: bagaimana peluang ini benar-benar menjadi program yang terealisasi dan manfaatnya dirasakan masyarakat Provinsi Gorontalo,” pungkas Fadli Hasan.